Potret Kehidupan Anak Jalanan Jakarta

Potret Kehidupan Anak Jalanan Jakarta

apa yang kita tau dari anak jalanan?
apa yang SANGGUP KITA BERIKAN UNTUK MEREKA??
MEREKA NYATA-NYATA DI DEPAN MATA KITA

Video ini di-take di Kampung Melayu, jakarta dari dalam sebuah mobil angkot. Seorang Anak Jalanan Mencoba menyanyikan lagu salah satu band terkenal D’Masiv. Lumayan untuk seorang anak yang harus mencari makan dengan bekerja menyanyi. Ibukota memang kadang menyajikan potret ironis seperti ini. Pemerintah harus bergerak buat Mereka yang terlantar. Bangkit Indonesiaku!
http://www.youtube.com/v/A19z75o2BWs&hl=en_US&fs=1&

KOMPAS.com — Sembari menunggu giliran narik, Abe (30) mengeluarkan botol bekas minuman. Sepertiga botol plastik penyok itu berisi beras. Tepat saat Metromini 46 berhenti di depannya, Abe melompat naik dan mengamen.

Kalau sudah ngelem, tambah berani kalau disuruh apa-apa.

Sekali ngamen, Abe yang sejak remaja hidup di jalanan itu sedikitnya mendapatkan Rp 2.000. Uang itu segera dibelanjakan kopi susu. Lain kali, seusai ngamen, Abe menyalurkan hobi merokoknya. Itulah Abe, seorang lelaki yang besar di jalan, menghabiskan hidup dengan ngamen dan narik. Saat ditemui di perempatan Utan Kayu, Jakarta Timur, ia menjelaskan, narik adalah istilah untuk pekerjaan sopir atau kenek bus.

Bagi Abe yang kini telah memiliki satu anak, kehidupan jalanan sudah telanjur melekat. Dia mudah ngobrol ngalor-ngidul diselingi kata-kata kasar. Dia bicara mulai dari pengalamannya ngamen di Yogyakarta, sulitnya mencari uang Rp 45.000 untuk biaya sekolah anaknya di TK, hingga kehidupan malam anak jalanan yang dekat dengan rokok dan minuman keras.

Kisah Abe hanyalah satu sisi kehidupan anak jalanan. Persaingan ketat untuk mendapatkan rupiah demi bertahan membuat kehidupan semakin keras.

Curi-mencuri adalah hal biasa. Leman (14), pengamen di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, enteng saja mencuri rokok kawannya. Kalau ketahuan? Ya, dia bakal kena pukul pemilik rokok.

Begitupun dengan palak-memalak di antara mereka. Anak baru atau bocah yang lebih kecil menjadi sasaran empuk demi sebatang rokok saja.

Uang merupakan daya tarik bagi anak jalanan. Setelah uang di tangan, mereka bisa melakukan apa pun yang mereka suka. Leman memakai sebagian uang untuk ngelem. Istilah bagi anak-anak yang membeli lem untuk diisap baunya hingga anak-anak itu merasa melayang.

”Biasanya, satu kaleng dipakai delapan anak. Beli lem juga patungan. Kalau sudah ngelem, tambah berani kalau disuruh apa-apa,” ucap Leman.

Emosi anak-anak jalanan juga mudah naik dengan alasan yang kadang kala tidak jelas. Aldi (14) pernah digebuki pengamen yang lebih tua hanya gara-gara dia dikira mencuri gitar pengamen lain.

Tidak hanya di antara sesama pengamen saja mereka harus berhati-hati, serbuan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga harus diwaspadai. ”Mungkin lima kali saya dimasukkan ke panti gara-gara ketangkep Satpol PP,” ucap Mamat (16), pengamen di Cawang, Jakarta Timur.

 

 

Obyek eksploitasi

Di panti sosial, kehidupan anak jalanan tidak selalu terjamin. Mamat ingat, seorang anak jalanan yang berusia lebih tua darinya sempat menyuruhnya membuka celana.

”Dia mau sodomi saya. Saya teriak sampai petugas panti datang menolong saya,” katanya.

Seorang kawan Mamat tidak berani berteriak. Jadilah ia korban pelampiasan nafsu anak jalanan yang lebih dewasa.

Umpatan juga menjadi bagian dari kehidupan anak jalanan. Entah meluapkan emosi atau sekadar bercanda.

”Dasar kurang ajar, binatang!” teriak Entong (8) yang beroperasi di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Makian itu disusul tawa lepas si bocah yang dibalas dengan makian juga oleh Santi. Santi adalah koordinator pengemis yang juga bos Entong.

Entong dibawa Santi mengemis sejak bocah itu berumur dua bulan. Bayi-bayi itu diupah Rp 5.000 per hari. Upah dibayarkan ke ibu mereka yang rata-rata juga menggelandang di jalanan atau ke orang-orang yang ”memiliki” bayi entah dengan cara apa.

Lain lagi cerita Siti Silvianti (15). Remaja asal Cikarang, Bekasi Utara, itu kabur dari rumah lantaran disiksa ibu tirinya. Polisi kemudian mengirim Siti ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, agar remaja putri itu diobati dan dirawat.

”Ketika ditemukan polisi, anak itu lemas kelaparan,” kata Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kabupaten Komisaris Besar Herri Wibowo.

Beruntung, Siti diselamatkan. Sebagian bocah yang telanjur terbuang ke jalanan tumbuh buta huruf dan tetap miskin meski setiap hari ratusan ribu mungkin mereka hasilkan dengan berbagai cara di jalanan.

Kehidupan anak jalanan jarang masuk dalam radar kepedulian kita. Padahal, hingga 2008, berdasarkan catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak, di DKI Jakarta saja ada 15.000 anak jalanan. Namun, hanya jika terjadi kasus besar, seperti mutilasi di Cakung, barulah pandangan orang mengarah kepada kehidupan anak jalanan.

Ketua Program Studi Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan, ”Akarnya adalah kemiskinan. Kalau sebuah keluarga cukup secara ekonomi, sekolah anak pasti diperhatikan. Namun, jika orangtuanya susah makan, tidak ada pekerjaan, pendidikan rendah, nasib anak jelas telantar. Nilai-nilai kebaikan ideal dalam keluarga tidak akan didapat anak-anak itu.”

Anak jalanan dengan perilaku negatif serta berbagai eksploitasi yang dialaminya, kata Hamdi, hanya dampak sistemik program pengentasan kemiskinan yang tak menyentuh akar persoalannya. (COK/ONG/ART/NEL)

itu saja??no no no banyak lebih dari itu yang harus kalian tau…
sedikit cerita dari Hamdani Mutiara Tanjungdi blognya akumassa seperti ini penuturannya

Sekitar dua minggu yang lalu, gue sedang pusing dan malas narik (mengoperasikan tarayek) Metro Mini 91 jurusan Batusari-Tanah Abang karena terlalu sering dibokisin (dibohongi) oleh supir gue. Awalnya, supir gue, Si Sihombing ini baik. Melihat gue luntang lantung dia langsung memanggil gue,

“He, lae! Sini Kau. Apa marga Kau?”

“Tanjung, Paman.”

“Ah, masih saudara Kau dengan Akbar Tanjung? Faisal Tanjung? Orang kaya, Kau?” dia bercanda, “Ngapain Kau tak karuan begitu, seperti dewa mabuk, bawa-bawa botol setiap hari. Sudah, besok ikut jadi batanganku (jadi kondektur tetap dia) saja, Kau!”

Ikutlah gue bekerja dengan Sihombing sejak saat itu. Tapi lama kelamaan, setelah gue tahu seluk beluk tentang besar setoran dan pembagian pendapatan, gue baru sadar kalau selama ini dia ngebokisin gue. Misalnya pendapatan kita satu hari sebesar 700 ribu rupiah. Setoran kepada bos sebesar 230 ribu rupiah. Hutang air minum dan rokok kami berdua di pool perhari cuma 30 ribu rupiah. Untuk beli solar 180 ribu. rupiah Artinya penghasilan kami berdua 260 ribu rupiah. Kalau supir yang ‘asyik’ seperti supir gue sebelum bekerja dengan Sihombing, penghasilan dibagi rata. Yah, minimal harusnya gue mendapat 120 ribuan lah dari 230 ribu itu. Sihombing tiap hari cuma ngasih gue 70 ribu rupiah. Kawan gue sesama kondektur pernah bilang, “Wah, Tak. Itu namanya lo di-kadalin (dikerjai).” (kawan-kawan biasa memanggil gue dengan sebutan ‘Batak’)

Sudahlah, gue tinggalkan Sihombing.

 

Sihombing, supir Metro Mini 91

Sihombing, supir Metro Mini 91

Tiba-tiba gue jadi kangen kepingin nongkrong dengan kawan-kawan lama gue di daerah Tanjung Duren, belakang Untar (Universitas Taruma Negara). Gue langsung kembali ikut mengamen bersama kawan-kawan gue lagi seperti sebelumnya. Malam harinya hujan turun rintik-rintik. Gue dan kawan-kawan berteduh di sebuah gubuk beratap papan bekas dan berlantai papan juga, yang dilapisi karpet merah. Kami memetik gitar dan mendendangkan lagu bersama-sama, bercanda dan tertawa di gubuk papan beralas karpet merah.

Ketika itu datanglah seorang cowok yang usianya gue perkirakan sekitar enambelas tahunan. Tangan kirinya bertato dengan motif batik. Penampilannya keren, rapi dan bersih. Mengenakan kaos oblong tangan pendek warna hitam, celana buntung jins warna biru, dan berwajah seperti orang keturunan Cina. Rambutnya pendek sekali berjambul seperti David Beckham. Dia memegang sekaleng lem Aica Aibon. Sebelumnya kaleng tersebut dia sembunyikan dekat ketiak dalam kausnya. (Lem bermerek Aica Aibon terkenal sebagai zat adiktif yang murah dan umum dipakai oleh anak-anak jalanan untuk mabuk. Biasanya aktifitas menghisap aroma lem Aica Aibon melalui saluran hidung, disebut dengan istilah nge-lem atau ngaibon – red).

Cowok bertato (memakai kaos hitam) yang ternyata cewek

Cowok bertato (memakai kaos hitam) yang ternyata cewek

Salah satu kawan gue, Vetrus yang sepertinya sudah mengenal lelaki bertato itu, mendatanginya dan mengisengi cowok keren itu. Dia malah teriak dan menangis, Nggak karuan seperti perempuan. Ternyata gue baru sadar dia seorang perempuan dan dia tidak bisa berbicara alias gagu. Vetrus bertanya ke gue,“ Emang lu kira dia apa, Tak?”
Gue jawab, “Cowok.”

Kawan gue yang lain ikut angkat suara, ”Dia cewek, Tak. Rambutnya aja yang sengaja dipotong begitu. ”

Gue pun bertanya, ”Kalau cewek, kok ga ada payudaranya?”

“Payudaranya dikorsetin, Tak.”

“Kayak perut emak gue baru habis ngelahirin, dikorsetin. Hahahaha….” Gue tertawa.

Lalu cewek itu mulai menghisap lem Aibonnya dengan santai sambil merokok. Setelah lemnya habis dia meminta lagi lem dari salah satu kawan gue. Kawan gue nggak ngasih. Cewek itu nangis lagi. Lalu dia menyodorkan sendal jepitnya kepada kawan gue. Sendal jepit itu gunanya untuk ditukar dengan secolek lem Aibon milik kawan gue... tidak banyak. Dia cuma mencolek seuprit (sedikit) lem dari kawan gue. Gila tuh orang, pikir gue. Dia rela nyeker (tidak beralas kaki), mengorbankan sendal jepitnya untuk mencolek lem doang. Lalu dia kembali nge-lem sambil merokok. Yang gue heran, dia kemudian tidur tanpa melepas lem itu dari hidungnya. Jangan-jangan lem itu merekat nanti di hidungnya. Hehehe…

Tertidur sambil masih menghisap lem Aica Aibon

Tertidur sambil masih menghisap lem Aica Aibon

Siang harinya gue dan kawan gue membeli nasi bungkus, membawa nasi bungkus dalam kantong plastik ke gubuk kami lalu membangunkan kawan-kawan semua untuk makan siang bersama-sama. Tiba-tiba Si Gagu datang dan berniat nimbrung makan. Kawan gue menggodanya, “Nggak boleh! Apa-apaan lu? Bangun-bangun langsung mau nimbrung makan aja. Enak banget lu!” Si Gagu langsung nangis teriak-teriak lagi. Kawan gue bilang, “Nih, ambil! Makan sama nangis aja lu bisanya.” Makanlah Si Gagu bersama kami. Gue bilang ke dia, “ Cuci tangan dulu, baru makan.”

Sehabis makan gue menyuruh Si Gagu membeli tiga batang rokok dan air es. Dia mengambil uang dari tangan gue, lalu jalan dengan riangnya membeli tiga batang rokok dan air es. Setelah dia datang dan menyerahkan rokok dan air es, gue kasih dia sebatang rokok. Dia menghisapnya dengan santai.

Lokasi ngamen di daerah Blok M

Lokasi ngamen di daerah Blok M

Datanglah satu kawan gue yang baru habis mengamen di Blok M sambil menenteng gitar. Dia meletakkan gitarnya dan mengeluarkan sekaleng Aica Aibon dari kantong bersama uang sembilan ribu untuk membeli nasi lagi. Gue menyuruh kawan gue yang bernama Soni untuk membeli tiga bungkus nasi. Gue menambahkan uang sebesar tiga ribu untuk beli rokok. Soni pergi. Si Gagu tiba-tiba menyambar kaleng kosong untuk minta diisikan lem oleh kawan gue yang bernama Vetrus. Vetrus nggak ngasih. Si Gagu menangis lagi sambil berteriak-teriak.

Gue bilang, “Kasihlah. Berisik!”

Vetrus menjawab, “Bukannya apa-apa, Tak. Dia kalau punya Aibon, pelit banget.

Makanya gue males ngasih dia.”

Gue bilang lagi, “Udahlah, kasih aja, Trus.”

Akhirnya Vetrus memberinya. Si Gagu langsung senang. Tanpa banyak basa basi langsung itu kaleng ditempelkan ke hidungnya. Vetrus kemudian menyuruh Soni mencari kaleng kosong. Soni jalan mencari, dan setelah dapat langsung memberikannya pada Vetrus. Vetrus mengisi kaleng kosong Soni dan kawan-kawan lainnya dengan Aibon.

Nge-lem bersama

Nge-lem bersama

Vetrus bertanya pada gue, “Lu nggak mau, Tak?”
Gue jawab, “Enggak, ah.”
“Emangnya lu kagak ngaibon?”
Kagak. Kalau anggur baru gue mau.” Jawab gue.

Lalu seorang kawan gue becerita tentang Si Gagu. Dia bukan cuma rela menukar sendal jepitnya, dia juga rela menukar bajunya dengan secolek Aica Aibon. Bahkan terkadang dia rela memberi tubuhnya untuk dapat sekaleng lem. Pernah ada cerita tentang Si Soni yang sedang asyik ngaibon, lalu tiba-tiba didatangi Si Gagu. Dia minta secolek Lem pada Soni. Soni bilang, “Ntar gue beliin sekaleng, tapi lu ‘main’ dulu sama gue.” Si Gagu dengan bodohnya lalu merelakan tubuhnya demi mendapat sekaleng Aica Aibon. Setelah mendapatkan kenikmatan, Soni membelikan sekaleng Aica Aibon untuk si cewek bertato dengan penampilan seperti lelaki itu.

Tempat tidur yang seadanya

Tempat tidur yang seadanya

Mengkhayal

Mengkhayal karena mabuk setelah nge-lem Aibon

Di hari lain Si Gagu pergi nyadong (meminta-minta) di sekitar area Diskotik Medika, di Jalan Daan Mogot. Dia meminta-minta uang pada wanita-wanita pekerja diskotik. Setelah mendapatkan uang dia langsung membeli sekaleng lem Aica Aibon. Dengan santai dia menghisapnya sambil tidur-tiduran. Di sore harinya dia membeli sekaleng lagi. Dia akan berjalan sambil sembunyi-sembunyi karena takut dimintai oleh Vetrus, sesama penghisap lem. Suatu ketika Vetrus melihat Si Gagu sedang asyik ngaibon sendirian. Vetrus langsung mengejarnya untuk minta berbagi. Setelah Si Gagu tertangkap, Vetrus berkata, “Lu kalau punya aja, ngumpet-ngumpet! Dasa pelit lu!” Si Gagu kemudian menuangkan sebagian lemnya ke kaleng milik Vetrus. Setelah itu dia ngumpet lagi, nge-lem sambil mengkhayal.

 

sumber : kompas.com

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s