Keberadaan Gories Mere dalam Penggerebekan Teroris di Medan

Keberadaan Gories Mere dalam Penggerebekan Teroris di Medan Dipertanyakan
Ramadhian Fadillah – detikNews

Your browser does not support iframes.


Baca Juga :
• Penyerangan Polsek Hamparan Perak
Kontras: Mereka Memberi Pesan 3 Tewas Dibalas 3
• Polsek Hamparan Perak Masih Ramai Dikunjungi Warga
• RS Polri Benarkan 3 Tersangka Teroris Medan Dirujuk ke Rumah Sakit
• Polsek Hamparan Perak Diserbu
Pemakaman Aiptu Deto Sutejo Berlangsung Khidmat
Jakarta – Dugaan keikutsertaan Komjen Gories Mere dalam penggerebekan teroris di Medan dipertanyakan. Sebab, saat ini jenderal bintang tiga tersebut sudah tidak lagi bersinggungan langsung dengan penanggulangan terorisme di Indonesia.

Dalam penggerebekan teroris di Medan beberapa waktu lalu, polisi jenderal bintang tiga disebut-sebut ada dalam rombongan Densus 88 yang ‘menerobos’ Pos Golf Bravo Bandara Polonia untuk menuju Area Delta. Jenderal itu disebut-sebut adalah Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Gories Mere.

Menurut Ketua Badan Pengurus Kontras, Usman Hamid, keterlibatan Gories ini bukan yang pertama kalinya.

“Soal keterlibatan Goris ini bukan pertama kali. sebelumnya pernah terjadi. Goris memang punya kemampuan antiteror yang baik. DI Indonesia maupun jaringan internasional,” kata Usman Hamid dalam sebuah diskusi di Bakoel Coffee, Jakarta, Rabu (22/9/2010).

Jika memang kemampuannya di bidang penanggulangan teroris masih sangat dibutuhkan, menurut Usman, harusnya Gories dikembalikan lagi di antiteror, tidak di BNN seperti saat ini.

“Ini strukturnya harus dipertanggungjawabkan. Densus harus diaudit,” desak Usman.

Usman mengatakan polisi bisa saja membela diri mengatakan jika keberadaan Gories di sana cuma kebetulan. Tapi publik tidak lantas langsung percaya.

“Polisi bisa saja membela diri mengatakan ketemu di sana, ketemu di Medan. Jadi seolah-olah, ketemu Gories baru pulang dari Danau Toba.”

“Kenapa BNN ikut-ikut? Apa teroris ini juga tersangka narkoba?” sindir pria yang batal menjadi pengurus Partai Demokrat tersebut.

Sebelumnya Mabes Polri mengaku memastikan Gories Mere berada dalam penggerebekan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 di Medan. Namun, jika benar Gories yang tak lagi berdinas di bidang terorisme, ada dalam rombongan Densus 88, Mabes Polri menilai tidak ada masalah yang perlu dibesar-besarkan. Bisa saja Gories memang ada keperluan di Medan.

Pada Kamis 16 September, Danlanud Medan mengirim surat kepada Kapolda Sumatera Utara terkait ‘penerobosan’ rombongan Densus 88 di Bandara Polonia. TNI Angkatan Udara merasa keberatan karena rombongan itu tidak mengindahkan aturan yang berlaku.

Petugas yang berjaga di pos sempat digertak oleh salah satu orang di rombongan tersebut. Orang itu mengatakan agar si petugas pos tidak menghalangi misi negara. Selain itu, orang di rombongan itu juga menyebut ada jenderal bintang tiga di rombongan itu.
(anw/anw)

Teknik Mesin
Website Jurusan Teknik Mesin
Jurusan fTeknik Mesin didirikan berdasarkan SK Dirjen Dikti 03/DJ/KEP/1979. Ketika didirikan, Jurusan Teknik Mesin hanya memiliki Program Studi Teknik Mesin. Tahun 1987 Jurusan ini membuka Program Studi Teknik Pendingin dan Tata Udara dan Program Studi Teknik Energi. Kedua program studi ini telah berkembangn menjadi Jurusan sejak 2005. Kemudian Program Studi Teknik Aeronautika dibuka pada tahun 1990.
VISI
Menjadi jurusan yang menghasilkan tenaga ahli profesional di bidang Teknik Mesin, serta menjadi pusat unggulan dalam pendidikan, penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diakui secara nasional maupun internasional.
MISI
1. Melaksanakan pelayanan pendidikan berdasarkan kebutuhan industri
2. Mengembangkan penelitian terapan terkait dengan permasalahan industri
3. Membuat suasana akademik yang tanggap terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang teknik Mesin

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK MESIN
Program Studi D3 Teknik Mesin (ME) menyelenggarakan proses pendidikan untuk menghasilkan tenaga Ahli Madya yang memiliki kemampuan dalam perancangan, proses pemesinan, proses fabrikasi, pemeliharaan, kendali, pengelolaan proses produksi dan pengelolaan pemeliharaan mesin.
Program Studi Teknik Mesin terdiri atas Konsentrasi Teknik Pemesinan (Production) dan Teknik Perawatan dan Perbaikan (Machinery Maintenance) serta akan dikembangkan Konsentrasi Teknik Perancangan Mesin (Construction Design) dan Teknik Fabrikasi (Fabrication). Pengembangan sain dan teknologi di Program Studi Teknik Mesin diarahkan kepada pengembangan Powder Metallurgy, Proses Pemesinan Terpadu dan Teknologi Monitoring Kondisi Mesin.
PROSPEK PROFESI LULUSAN
Lulusan program studi ini banyak diserap di berbagai industri antara lain :
• Industri Manufaktur
• Otomotif
• Tekstil
• Perminyakan
• Industri Pertokimia
• Rancang Bangun
• Penerbangan
• Jasa
• Elektronik
• Kontraktor (Staf Engineering)
• Staf Pengajar/Instruktur Perguruan Tinggi
Sedangkan perusahaan/tempat lulusan bekerja tersebar di berbagai perusahaan yang memiliki reputasi cukup dikenal, seperti :
• PT. Garuda Indonesia
• PT. Caltex Pasific Indonesia
• PT. Pertamina
• PT. Schlumberger Indonesia
• PT. BPPT
• PT. PINDAD
FASILITAS
Fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar meliputi :
• Ruang Kelas
• Bengkel/Laboratorium
• Perpustakaan Pusat
• Perpustakaan Jurusan
Fasilitas bengkel/laboratorium yang digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain :
• Lab. Pengujian Bahan
• Proses Pemesinan
• Fabrikasi
• CNC
• Metrologi
• Fluida dan Termal
• Kendali Pneumatik dan Hidrolik
• Pemeliharaan Dasar Mesin
• Perancangan dan Konstruksi (CAD/CAE)
• ACTC Welding Center
• ACTC Otomasi
• ACTC Design
KEGIATAN KEMAHASISWAAN
• Mahasiswa mempunyai kebebasan dalam rangka mengembangkan minat bakat dan kemampuan serta dalam upaya mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa, menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dunia pendidikan dalam kegiatan kemahasiswaan. Karya-karya yang dihasilkan mahasiswa Politeknik Negeri Bandung Program Studi Teknik Mesin adalah GOKART, ROBOTIC, dan Mobil Listrik.
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK AERONAUTIKA
Program Studi Teknik Aeronautika (AR) merupakan satu-satunya program studi yang mengajarkan bidang studi teknik Aeronautika (penerbangan) yang berada di dalam lembaga Politeknik Negeri di Indonesia. Kurikulum pendidikannya diarahkan untuk menghasilkan lulusan Program Diploma 3 yang memiliki wawasan luas dan pengetahuan serta keterampilan bidang teknik penerbangan dengan penekanan pada kompetensi keahlian bidang perawatan mesin dan rangka pesawat udara (airframe & power-plant maintenance).
Kurikulum disusun mengacu pada standar Diknas dan standar regulasi penerbangan yang berlaku di Indonesia khususnya Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR) Part 65 & AC-65-2. Sehingga lulusannya selain memperoleh ijazah Diploma 3, juga dapat memperoleh sertifikat dasar yang diperlukan untuk dapat bekerja di dunia industri perawatan pesawat terbang (Basic Certificate A1 & A4) maupun Type Certificate (Aircraft Maintenance Engineerr License : AMEL)
Sistem manajemen pendidikan di Program Studi Teknik Aeronautika dijalankan dengan mengacu pada statndar Diknas dan standar regulasi penerbangan yang berlaku di Indonesia, khususnya Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR) Part 147. Dengan persiapan yang telah dilakukan oleh Program Studi Teknik Aeronautika sebagai Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO) mengacu pada CASR Part 147, direncakanan Program Studi Teknik Aeronautika akan memperoleh sertifikasi dari pihak authoritas (Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara: DSKU) pada tahun 2010.
PROSPEK PROFESI LULUSAN
Lulusan Program Studi Teknik Aeronautika dipersiapkan untuk menjadi Calon Personil Ahli Perawatan Pesawat Udara, khususnya pada bidang perawatan rangka dan mesin pesawat udara (Airframe & Power-plant). Namun karena dalam kurikulumnya juga banyak mengandung muatan bidang studi Teknik Mesin maka lulusan Program Studi Teknik Aeronautika juga dapat bekerja pada bidang industri sejenis antara lain industri Otomotif, Industri Elektronik, Industri Permesinan dan lain-lain.
Prospek profesi baru yang dapat menjadi lapangan pekerjaan lulusan Program Studi Teknik Aeronautika, antara lain adalah profesi di bidang Industri Pesawat Model (Aeromodeling) yang dewasa ini kian berkembang. Hal ini ditandai dengan kian maraknya penggunaan pesawat tanpa awak baik untuk kepentingan militer maupun kepentingan sipil seperti survey / pemotretan udara dan lain-lain. Profesi baru ini merupakan satu profesi keahlian yang menerapkan wawasan pengetahuan dan keterampilan bidang Teknologi Aeronautika (Teknologi Penerbangan).
FASILITAS BENGKEL/LABORATORIUM
Proses pengajaran/perkuliahan didukung dengan beberapa fasilitas bengkel/laboratorium/studio yang telah dimiliki baik oleh Program Studi Teknik Aeronautika, Jurusan Teknik Mesin maupun Politeknik Negeri Bandung antara lain :
• Laboratorium Aircraft & Power-plant
• Laboratorium Terowongan Angin
• Laboratorium Basic Electric dan Digital Electronic Instrumentation System
• Laboratorium Komposit
• Laboratorium Fabrikasi
• Laboratorium Pemesinan
• Laboratorium Las
• Lab Komputer
• Studio Gambar
• Laboratorium Desain
• CAD/CATIA
• Laboratorium Pneumatik & Hidrolik
• Laboratorium Material (Uji Bahan)
• Dan beberapa fasilitas lain yang sedang dalam proses pengadaan / pengembangan.
PERUSAHAAN TEMPAT LULUSAN BEKERJA
Dengan berbekal wawasan pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan selama mengikuti pendidikan di Program Studi Teknik Aeronautika secara umum lulusan Program Studi Teknik Aeronautika telah bekerja di berbagai perusahaan / industri yang memiliki reputasi cukup dikenal oleh masyarakat luas dengan bidang usaha bervariasi mulai dari Industri Penerbangan, Industri Automotif, Industri Pertambangan dan lain – lain, seperti :
• PT. Garuda Indonesia
• PT. Merpati Nusantara Airline
• PT. Dirgantara Indonesia
• PT. Travira Air
• PT. Astra Motor
• PT. JVC Elektronic Indonesia
• PT. Schlumberger Indonesia
PRODUK/PENELITIAN UNGGULAN & PROGRAM PELATIHAN
Program Studi Teknik Aeronautika juga telah melakukan penelitian pada beberapa produk seperti :
• Pesawat Terbang Bersayap O (tertutup)
• Swamp Boat
• Water Scooter (Jetski)
• Pembangkit Listrik Rotor Savonius
• Kincir Air Gorlov
Selain itu juga menawarkan pada masyarakat yang berminat untuk mengikuti program-program pelatihan singkat, antara lain:
• Pelatihan Singkat Teknologi Komposit
• Pelatihan Singkat Teknologi Produksi Peasawat Model
• Kursus Persiapan Ujian Sertifikasi Basic Certificate A1/A4
• Pelatihan Pelaksanaan Pengujian di Terowongan Angin
• Dan pelatihan lain yang relevan dengan Bidang Studi Teknik Aeronautika.

MASIH AMANKAH NAIK KERETA API?
19 Jul 2010
• Business News
• Jasa
?
Jakarta, 17 Juli 2010 (Business News)
Kereta api sudah sejak lama menjadi alat transportasi massal yang paling populer dan diminati masyarakat. Sejarah panjang perkereta apian dinegara kita dimulai sejak jaman penjajahan Belanda. Sang penjajah itulah yang membangun jaringan rel kereta api di pulau Jawa (Jakarta-Bandung, Jalur Utara ; Jakarta-Semarang-Surabaya , Jalur Selatan ; Jakarta-Yogyakarta-Surabaya) dan Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan hingga Lampung)) baik untuk angkutan penumpang maupun barang.
Setelah kemerdekaan hingga kini kereta api tetap memegang peranan penting sebagai sarana transportasi massal unggulan dan roda penggerak ekonomi masyarakat. Hal ini sesuai dengan paragraf dalam Undang-Undang Perkeretaapian No. 13 tahun 1992 (BN No. 5267 hal. 1B-5B dst) yang berbunyi Perkeretapian merupakan salah satu moda yang memiliki karakteristik dan keunggulan khusus terutama dalam kemampuannya mengangkut baik penumpang maupun barang secara massal, hemat energi, hemat dalam penggunaan ruang, mempunyai faktor keamanan yang tinggi dan tingkat pencemaran yang rendah dan lebih efisien dibanding moda transportasi jalan raya untuk angkutan jarak jauh dan untuk daerah yang padat lalu lintas seperti angkutan kota.
Pilihan sebagian besar masyarakat untuk menggunakan kereta api karena “rangkaian besi baja berjalan” itu
Dianggap aman, andal dan cepat sampai tujuan. Anggapan itu cukup beralasan mengingat bahwa kereta api memiliki jalur dan aturan berialulintas sendiri, sehingga bebas dari kemacetan, tidak seperti halnya lalulintas di jalan raya. Namun benarkah sampai sejauh ini faktor keamanan dan keselamatan telah menempati posisi yang bersifat sangat utama (ultimate) dan menjadi bagian dari unsur yang melekat (built-in) dalam prosedur standar operasional perkeretaapian di Indonesia? Jawabannya belum sepenuhnya menjadi kenyataan karena terlihat masih tingginya angka kecelakaan kereta api di negara kita yang menimbulkan korban jiwa meninggal maupun luka-luka dan kerugian sosial ekonomi yang signifikan di masyarakat. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan kita semua dan untuk ini perlu ada upaya pembenahan yang nyata dari pengelola kereta api untuk mencari akar penyebab, kemudian memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang ada dalam sistem dan prosedur operasional kereta api serta meningkatkan kemampuan sumber daya yang ada agar kedepan angka kecelakaan kereta api di Indonesia dapat ditekan sekecil mungkin bahkan tidak mustahil kelak bisa mencapai zero accident
Banyak faktor penyebab
Riwayat perjalanan usaha pengelola kereta api di Indonesia memang telah beberapa kali mengalami perubahan nama dan status dimulai dari perusahaan swasta Belanda NIS, kemudian setelah awal kemerdekaan tahun 1950 menjadi DKA (Djawatan Kereta Api), tahun 1963 menjadi PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api), tahun 1971 PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), tahun 1991 Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api).
Dan akhirnya pada tahun 1999 berubah menjadi PT KAI-Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini. Dari status badan usaha yang terakhir ini memang PT KAI diharuskan t
Untuk bisa mengejar keuntungan dalam usahanya (profit oriented), namun di sisi lain sebagai perusahaan pelayanan publik dituntut pula untuk memberikan jasa pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat pengguna, salah satunya dengan penjualan tiket yang bertarif murah untuk kelas ekonomi. Dengan peran ganda yang harus dijalankan tersebut memang sedikit banyak akan mempengaruhi kinerja usaha PT KAI kendati pemerintah dalam hal ini memberikan kompensasi berupa dana PSO (Public Service Obligation) setiap tahun melalui Kementerian Perhubungan. Namun sayangnya realisasi pencairan dana tersebut baru dilakukan pada pertengahan tahun bukan di awal tahun sehingga PT KAI harus menyediakan dana talangan sendiri untuk pengoperasian kereta kelas ekonomi sehingga kondisi ini bisa mengganggu arus kas perusahaan.
Dengan minimnya anggaran yana tersedia akan sangat mempengaruhi total kinerja perusahaan. Sal*, ti satu kinerja yang terpengaruh adalah kinerja keselamatan dimana menurunnya kinerja ini akan meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan kereta api.
Masalah tingginya kecelakaan KA memang sangat mengganggu dan mengusik perhatian kita. Bagi PT KAI sendiri hal ini jelas akan menurunkan citra pelayanan dan kemampuan manajemen perkeretaapian. Data KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) menyebutkan 50 orang tewas dari 59 kasus kecelakaan KA selama periode tahun 2005-2010. Paling akhir kecelakaan KA Logawa jurusan Purwokerto-Jember di Saradan-Madiun, 29 Juni 2010 yang menelan korban tewas sebanyak 6 orang dan puluhan orang luka-luka. Hasil investigasi awal tim KNKT menemukan kesalahan manusia (human error) sebagai penyebab kecelakaan. Diduga kuat masinis KA terlalu cepat menjalankan kereta (over speed) sehingga KA anjlok dan terguling.
Penyebab tingginya kecelakaan KA ditengarai merupakan akumulasi dari banyak faktor di antaranya masalah regulasi, manajemen, kondisi sarana dan prasarana, SDM dan lain-lain. Selain itu PT KAI juga menghadapi gangguan yang berpotensi menimbulkan kerawanan kecelakaan seperti gangguan sinyal, gangguan telekomunikasi dan gangguan listrik atas (Makalah Yayasan Bhakti Ganesha ITB). Oleh karena itu langkah-langkah perbaikan yang menyangkut aspek-aspek tersebut di atas perlu diambil PT KAI untuk meningkatkan kinerja keselamatan yang menjadi tuntutan dan perhatian masyarakat pengguna.
Menyoal aspek regulasi, hal yang perlu diperhatikan adalah perlunya penegakan aturan (UU, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri) yang menempatkan faktor keamanan dan keselamatan pada posisi sangat utama. Sementara itu menyangkut aspek manajemen perlu adanya persepsi yang sama atas standar keselamatan mulai dari top manajemen hingga level operasional. Kemudian perlu adanya peningkatan dalam perawatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana KA (lokomotif, gerbong, rel, jembatan, wesel dan sinyal) sesuai prosedur standar operasi dan standar keselamatan. Dan yang terakhir adalah peningkatan kemampuan dan profesionalitas SDM serta tidak ketinggalan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan sebagai bagian dari peningkatan kinerja perusahaan.
Dengan terpenuhinya kinerja keselamatan tadi, maka tentunya masyarakat pengguna akan merasa yakin dan percaya bahwa naik kereta api tetap aman dan kereta api tetap menjadi sarana transportasi rakyat yang dapat diandalkan sebagai tulang punggung sistem transportasi nasional. (IS)
Entitas terkaitAnggapan | Belanda | BN | Business | Dianggap | Diduga | DKA | Indonesia | Jawa | Jawabannya | Jember | KA | Kementerian | Keputusan | Kereta | KNKT | Masalah | Menyoal | Penyebab | Peraturan | Perkeretapian | Perumka | Pilihan | PJKA | PNKA | PSO | Riwayat | Sang | SDM | Sejarah | Sumatera | Surabaya | Tentunya | Data KNKT | Djawatan Kereta | Jalur Selatan | Jalur Utara | KA Logawa | PT KAI | Public Service | Sumatera Selatan | Undang Perkeretaapian | Bagi PT KAI | Kereta Api Indonesia | Komite Nasional Keselamatan | Perusahaan Jawatan Kereta | Perusahaan Negara Kereta | Perusahaan Umum Kereta | Makalah Yayasan Bhakti Ganesha | MASIH AMANKAH NAIK KERETA | Ringkasan Artikel Ini
1B-5B dst) yang berbunyi Perkeretapian merupakan salah satu moda yang memiliki karakteristik dan keunggulan khusus terutama dalam kemampuannya mengangkut baik penumpang maupun barang secara massal, hemat energi, hemat dalam penggunaan ruang, mempunyai faktor keamanan yang tinggi dan tingkat pencemaran yang rendah dan lebih efisien dibanding moda transportasi jalan raya untuk angkutan jarak jauh dan untuk daerah yang padat lalu lintas seperti angkutan kota. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan kita semua dan untuk ini perlu ada upaya pembenahan yang nyata dari pengelola kereta api untuk mencari akar penyebab, kemudian memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang ada dalam sistem dan prosedur operasional kereta api serta meningkatkan kemampuan sumber daya yang ada agar kedepan angka kecelakaan kereta api di Indonesia dapat ditekan sekecil mungkin bahkan tidak mustahil kelak bisa mencapai zero accident Banyak faktor penyebab Riwayat perjalanan usaha pengelola kereta api di Indonesia memang telah beberapa kali mengalami perubahan nama dan status dimulai dari perusahaan swasta Belanda NIS, kemudian setelah awal kemerdekaan tahun 1950 menjadi DKA (Djawatan Kereta Api), tahun 1963 menjadi PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api), tahun 1971 PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), tahun 1991 Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api).

Jumlah kata di Artikel : 922
Jumlah kata di Summary : 188
Ratio : 0,204

*Ringkasan berita ini dibuat otomatis dengan bantuan mesin. Saran atau masukan dibutuhkan untuk keperluan pengembangan perangkat ini dan dapat dialamatkan ke tech at mediatrac net.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s